Tampilkan postingan dengan label visual literacy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label visual literacy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Agustus 2017

Guwe Juga Ngarti Kalee..

Dalam proses belajar bagaimana cara membuat foto yang bagus? Lebih kurang pertanyaan semacam ini selalu muncul dalam suatu seminar atau diskusi. Biasanya nongol saat obrolan santai jeda kopi atau seusai acara, bukan saat sesi tanya jawab. Seperti selepas acara Huntbar yang diadakan HMJ Polimedia Jakarta di Kota Tua kemarin, di sela sesi wefie ada peserta yang mengampiri dan berbicang ringan.


Terima kasing Bro Ardiles Akyuwen untuk portrait keren ini..
Jawaban yang saya berikan tetap sama dan normatif, dari ekspresi wajahnya sepertinya nampak ketidakpuasan. 

Yaa..kalau jawaban macam itu, cuma harus rajin motret, guwe juga ngarti kalee.. ☺ 

Karenanya saya tambahkan dengan usulan agar membentuk kelompok hunting foto dan diskusi kecil. Selain sebagai rekanan dalam menjaga elan pemotretan, juga bisa saling memberikan evaluasi. Syukur-syukur ada mentor yang bisa membimbing secara berkala dan intens. Agar terpantau pencapaian dan pekerjaan rumah selanjutnya.

Saya beruntung karena mengenal fotografi saat belajar formal Desain Grafis sehingga ada guru yang bisa direcokin dengan beragam pertanyaan. Saat itu ada Pak Risman Marah yang dengan sabar mengajari hal-hal sedari dasar seperti metering. Kemudian ada Mas Roy Suryo, yang kemudian hari menjadi Menpora itu, yang bahkan mengantar saya membeli kamera ke Artha di Jalan Solo. Dari keduanya saya juga belajar memotret dan memotong kostum sang model. ☺

Selanjutnya saat melanjutkan studi di jurusan Fotografi ISI Yogyakarta, selain di kampus, saya digembleng Mas Edial Rusli di Padepokan Gowongan, rumah klasik yang jadi markas anak nongrong jaman itu. Disini saya dicecar agar memotret rapi dan mengawasi pencahayaan yang ada. Hasil jepretan kenyang dicoret-coret spidol untuk mengajari komposisi yang pas. Juga belajar studio dengan Pak Johnny Hendarta dan Pak Herry Gunawan serta memahirkan Komposisi lewat Pak S. Setiawan. Bahkan nama terakhir tersebut membantu saya mencarikan lensa Nikon 20mm.

Berikutnya oleh Mas Edial saya dititipkan ke Bang Rama Surya di Patangpuluhan, ini rasanya tingkatan belajar terberat. Pada fase ini saya sudah semester akhir akhir namun seolah belajar dari dasar, dilatih untuk berlatih cermat previsual, tafsir karya, selain belajar giat memroses foto hitam putih analog.  Kesemua proses belajar dengan para guru tersebut sangat berpengaruh kini.

Jika musti dirangkum menjadi tips-trik rasanya menjadi tak mudah, butuh proses seiring keseriusan. Walau cara belajar generasi kini relatif jauh lebih mudah dan cepat dengan banyaknya sumber pembelajaran, salah satunya adalah raksasa internet. ☺ Lha wong mahasiswa sekarang dengan mudah konsultasi lewat WA, yang mungkin saja ia lakukan sambil ngemil dan ngupil.

Bedanya jika harus belajar informal atau otodidak adalah menjaga intensitas diri. Belajar mandiri tanpa motif dan semangat kuat akan berlarut belaka tanpa pencapaian yang terukur. Kecuali jika memang sekedar hobi atau iseng yang kadangkala jadi alasan pelarian akan ketidakseriuan.

Guwe kan cuma iseng..”
Guwe kan cuma hobi..”

Alibi mujarab jika diajak membahas dengan serius sebuah topik atau saat diminta “mempertanggungjawabkan” karyanya.

Pertanyaan lain yang biasanya nongol adalah perkara alat. Saya juga sempat berbincang seusai acara tentang hal ini yang merupakan pertanyaan lanjutan dari sesi tanya jawab. Terkait kebiasaan pemakaian (focal) lensa dan pertimbangan untuk memakai mirrorless.

Saya sejak akhir era 90an terbiasa meringkas alat. Terutama saat belajar dengan Bang Rama Surya dan dibiasakan keluyuran hanya dengan lensa 50mm. Kemudian hingga kini terbiasa dengan kombinasi 28mm, 50mm, dan 90mm. Ini pilihan personal belaka terkait kebiasaan dan kebutuhan soal pembingkaian saat pemotretan. Ada kawan yang lebih memilih lensa “tengah” 35mm berduet dengan 60mm micro. Jika hanya (harus) membawa satu lensa saya cenderung untuk membawa 50mm. Sebagai lensa normal, focal ini cukup yahud dibawa “maju-mundur”.

Tetapi jika memakai mirrorless yang ukurannya secara umum relatif mungil membawa beberapa lensa sesungguhnya masih cukup ringan. Dalam tas pinggang yang saya bawa sehari-hari termuat tiga lensa tersebut di atas. Mirrorless membuat rajin berkamera, bereaksi lebih cepat dan tak segan membidik. Soal pemilihan merk kembali ke kebutuhan, performa, selera warna dan tentu isi kantong. Kalau memang dengan sensor kecil dirasa cukup tentu tak perlu pakai full frame yang “full” pula harganya.

Kelanjutan pertanyaan soal alat adalah pengoperasian. Ada yang bertanya bagaimana supaya tak kehilangan momen terkait setting kamera. Aturlah se-auto mungkin, jawab saya. Pilihan saya jatuh pada opsi A (AV) atau S (TV), dengan kecenderungan pilihan pertama. Tinggal kemudian bermain kompensasi. Kamera sekarang sedemikian cerdas, titik fokus bisa kita perintahkan secara otomatis untuk mengunci subjek yang dekat dengan kamera. Di sisi kiri, tengah, atau kanan bingkai. Bahkan bisa diiumbuhi dengan AF Tracking

Demikian pula ISO bisa diperintahkan bekerja di rentang tertentu, misal 200-1600, jika kita khawatir noise di ISO yang lebih tinggi. Sehingga ISO akan secara dinamis menyesuaikan kondisi pencahayaan tempat pemotretan. Kecuali jika ada pertimbangan khusus ingin melulu memakai ISO tertentu, kita tinggal setting secara manual.


Nah, salah satu yang tak bisa diotomatiskan adalah metering mode. 

Monggo dicermati lebih lanjut..

Perkara teknis memang hal medasar yang kudu dibangun dengan baik. Sebagai pondasi dan kendaraan dalam menyampaikan serta menghantarkan gagasan.
Selepas teknis ada pertanyaan, mana yang lebih bagus sebuah pemotretan dengan framing (previsual) terencana atau spontan kemudian dibuat cerita atau konsepnya? Keduanya sama baik, karena yang spontan sekalipun sesungguhnya sudah ada intensi saat rana dijepret dalam waktu singkat. Tingkat keberhasilan tentu kembali ke lama latihan atau jam terbang. Walau pada bagian “dicari cerita atau konsepnya belakangan” tak selalu bisa pas atau berhasil. Kadang terasa otak-atik atau cocoklogi, alias dipas-pasin sesuka hati.

Itulah mengapa ada obrolan lanjutan tentang seorang peserta melihat pameran dan merasa tak nyambung saat membaca tulisan pengantar (konsep) dengan karya yang terpajang. Bahkan obrolan (konfirmasi) dengan sang seniman masih juga tak memuaskan.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati disini:
1. Memang PR bersama, tak semua fotografer bisa dengan fasih menjelaskan gagasan, baik secara lisan maupun tulisan.
2. Tak sedikit pula pemirsa yang datang memandang tidak dengan bekal yang memadai. Apalagi jika sudah tersimpan niatan (selalu) menghakimi. Sehingga memang ada kesenjangan nan timpang pada dua hal tersebut.

Bagaimana supaya setidaknya ada keseimbangan? Oya..hal ini bukan untuk menyeragamkan apalagi memaksakan pandangan salah satu pihak ya..tetapi bagaimana foto sebagai sebuah teks terbaca dan terjadi dialog yang konstruktif di dalamnya. Ibarat kata, jika membaca berita koran yang relatif verbal saja repot, bagaimana membaca karya sastra? Untuk membaca juga ada ilmunya bukan? ☺

Bisa ada beberapa hal diupayakan:
1. Yaa..mau tak mau fotografer kudu mencoba memperbaiki bacaan lalu tulisan. Sehingga komunikasi menjadi lebih lancar sebagai komunikator. Jangan lupa, bacaan lalu tulisan.
2. Demikian juga komunikan membawa bekal yang memadai termasuk membuka diri untuk terus berproses dalam membaca setiap gejala dan pendekatan visual yang kian beragam. Membiasakan datang dalam diskusi karya adalah salah satu caranya.
3. Foto diiringi teks dan diskusi untuk membicangkannya. Dibarengi peran kurator atau kritikus sebagai jembatan demi keterbacaan karya kemudian.

Sehingga foto sebagai teks tak hanya dibaca, dihakimi secara hitam putih: bagus-jelek, mantabs-gitu doang, asyik-cemen dan semacamnya secara semena-mena. ☺ 

Apalagi jika berhenti di tataran teknis belaka.

Lha terus tulisan sepanjang ini mana bahasan street-nya?

Ah..soal itu ente pade ude ngarti kalee.. ☺




Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah berkenan hadir.
 Terutama kepada HMJ Fotografi Polimedia sebagai pemangku hajat. :)

Kamis, 03 Agustus 2017

Padu Padan Dalam Kedipan Rana*

Saat saya berpameran tunggal foto hitam putih dengan tajuk “Negeri Salah Langkah” pada 2001 silam di CCF Bandung, Seno Gumira Ajidarma, salah satu penulis yang memberikan catatan pada katalog memberi judul tulisannya: “Rasdian dan Perpadanan”. Dalam coretannya, Mas Mira, demikian saya biasa memanggilnya, menohok telak bahwa “rumus” memoret saya adalah perpadanan antara satu dengan hal lainnya. Bisa dua hingga tiga hal (objek). Bahkan beberapa “hanya”menunggu sesuatu yang melintas dan dirasa pas lalu memadankan dengan latar yang sudah saya siapkan. Setidaknya ini lecutan yang saya rasakan saat merasa besar kepala gegara berpameran tunggal.

… “Rasdian melihat dunia ini sebagai perpadanan-perpadanan yang bisa tetap sepadan atau sebaliknya saling berlawanan. Yang pertama mengesahkan, yang kedua menjungkir balikkan”. …

Contoh yang kedua adalah foto yang memperlihatkan Presiden Habibie yang berpeci merangkul tiga anak sekolah dalam poster kampanye “Aku Anak Sekolah”, sementara di depannya anak-anak sekolah itu berpose dengan kostum dan hiasan peperangan. Anak-anak dalam poster maupun dalam foto sama-sama tampak murni, justru karena itu kewajaran menerima kekerasan menjadi hal yang kontradiktif dengan keberadaban dalam semangat sekolah itu sendiri,. Apakah kita diajarkan untuk mencintai kekerasan? Dalam foto ini berlangsung penjungkir balikkan.”, demikian tulisnya.

Saya sangat bersyukur saat berniat menerbitkan buku "Senjakala Kalijodo" (2017), Mas Mira berkenan kembali memberikan pengantar. Karena hanya sorangan, tulisannya cukup panjang dan lumayan teoritis. Salah satu yang membuat lega adalah bahwa foto saya dirasa tak lagi bermodal “perpadanan”, artinya saya relatif berkembang, apalagi dalam rentang 15 tahun. Kalau begitu-begitu saja kan malu. ☺

“Jika pada 2001 sang juru foto tampak mengarahkan dalam ironi dari kontras keberpadanan, pada 2017 ini kontras keberpadanan, seperti menggusur-tergusur, dan sejenisnya taklagi hadir dalam ketertampakan eksplisit, yang memungkinkan Pembaca masuk lebih jauh sebagai Subjek-yang-Memandang, untuk memproses produksi maknanya sendiri.”, pungkasnya.

Sesungguhnya perpadanan adalah hal yang jamak dalam fotografi (memotret). Karena pada dasarnya (setidaknya) objek pemotretan terbagi dalam tiga lapis: latar depan, tengah (tempat objek utama biasa diletakkan, walau tak selalu), dan belakang. Kemudian ada juga yang membingkainya lagi dengan pembagian (bidang) dalam dua sisi: kanan-kiri atau atas-bawah.


Semua pendekatan (pembagian) tersebut di atas mesti berangkat dari kesadaran akan membangun sebuah cerita. Jika objek utama diletakkan di B (latar tengah), apa fungsi dan relasinya dengan A (latar depan) dan C (latar belakang)? Saling menguatkan atau berlawan secara kontras (perbandingan)? Mempunyai kesamaan bentuk atau arti? Atau sekadar pemanis estetika belaka?

Purwokerto, 12 Mei 2017.

Demikian juga yang demen membagi dalam dua bidang, apakah yang kiri dan kanan, juga atas-bawah, diniatkan dengan relasi tertentu? Atau mirip dengan pendekatan teknik sanding dalam photo story untuk mencari efek (tafsir) ketiga? Tafsir pertama di bagian atau sisi A (kiri), kedua didapat dari bagian B (kanan) sedang tafsir (efek) ketiga didapat dari penyandingan atau relasi dari dari dua sisi (A dan B) tersebut.


Pada konteks ini sesungguhnya kita akan melintas pada wilayah tafsir, selepas kendaraan estetika. Tak lagi berbincang ini apa(?) dan betapa indahnya, tapi menyelam pada lautan pertanyaan ini tentang apa(?). Pendekatan semacam ini bisa dimanfaatkan dalam membaca (tafsir) visual sebuah karya, pun dalam memroses secara cepat relasi objek yang akan kita rekam.

Bagaimana dengan foto berikut?


Tanpa keterangan sama sekali, foto tersebut hanya memberikan informasi terbatas; Ada seorang yang semestinya perempuan karena berkerudung dan (sepertinya) dewasa sedang memotret tiga remaja yang bisa jadi kerabatnya yang sedang bermain di pantai. Lokasinya persisnya tak semua orang tahu, atau ada yang mengenalinya dengan pasti?


Sebuah foto yang lengkap (informatif) sepertihalnya dalam foto jurnalistik dan dokumenter tak bisa sekedar “Biarkan Foto Bicara”, karena tanpa teks bisa jadi akan kehilangan konteks. Berpotensi menjadi liar dalam tafsir atau interpretasi. Kecuali kalau memang diniatkan seperti karya lukis misalnya yang kadang hanya dijuduli dangan “tanpa judul” atau sekedar karya 1, 2, 3 dan seterusnya. Itupun jangan dilupakan bahwa biasanya tetap ada teks yang menyertainya dalam bentuk pengantar oleh sang seniman dan/atau kurator.

Untuk foto di atas jika saya tambahkan informasi bahwa itu di sebuah pantai di pesisir Barat kota Banda Aceh dan lokasi itu adalah bekas terdampak Tsunami 2004 apakah ada tafsir baru hadir? Mari kita diskusikan Sabtu besok selepas HuntBar di Kota Tua.. ☺

Nah..berikutnya sebagai bekal obrolan juga mari periksa isi folder foto di komputer masing-masing, sejauh mana padu padan kita? Apa yang sesungguhnya kita sampaikan dalam selembar atau bahkan berterabyte foto yang terekam? Sudah padukah padu padan itu?

* Tulisan ringkas ini diniatkan terutama sebagai pemantik diskusi pada acara berikut:


Rabu, 02 Agustus 2017

Julian Sihombing dan Anushka

Sohib sesama kombatan di harian Jurnal Nasional dulu, Agung Kuncahya Bayuaji yang sekarang dinas di Kantor Berita Xin Hua mengundang untuk turut memantik diskusi di gelaran pameran foto Anushka di Bandung. Pameran yang digelar oleh kawan-kawan Pewarta Foto Indonesia Bandung ini diadakan di Gedung Indonesia Menggugat, diskusi berlangsung pada Senin sore 24 Juli 2017. Oiya..Agung adalah mentor sekaligus kurator dari pameran ini.

Diskusi sekilas tentang photo story.
Diiringi hujan deras sekilas diskusi berlangsung hangat, jadi obrolan santai yang saling mewarnai. Saya dapat banyak gambaran tentang beberapa isu terkini yang terjadi di Bandung dan Jawa Barat umumnya. Tempat kawan-kawan pameris ini tinggal dan berkarya, juga wilayah saya keluyuran liputan saat dulu bergabung di harian Republika perwakilan Jawa Barat pada 2001-2003. Bandung, selain Jogja tempat saya kuliah selama enam tahun, dan tentu Ngawi sebagai kota kelahiran selalu menghadirkan cerita sekaligus kenangan. Iya..kenangan dengan kamu..iya.. kamuu.. ☺

Dulu media sosial (medsos) tak semasif dan masal seperti sekarang. Liputan sebuah berita tak sesederhana dulu, kini setiap warga merasa diri menjadi seorang reporter (jurnalis warga) yang berbekal telepon pintar dan  medsos menjadi muara yang (seharusnya) sangat demokratis. Yang membedakan adalah kredibilitas media dan tentu sang reporter itu sendiri. Jurnalis warga sering jauh lebih unggul secara kecepatan, tapi seringkali kedodoran soal keakuratan. Hal yang wajar karena memang bukan berdisiplin jurnalis yang musti mendalami berita dengan (re)konfirmasi dan verifikasi.

“Yah..ada kecoak di kamar mandi..!! Cepet lihat Yah..!!”, teriak si bungsu menginterupsi tulisan ini. Beginilah kalau pekerja rumahan. ☺ Lanjut lagi yaa..

Kelebihan dalam disiplin untuk mengolah (nilai) berita itu yang harus terus dan makin diperkuat oleh kawan jurnalis. Dalam konteks fotografi bisa dalam bentuk memperhatikan detail peristiwa dalam (bangunan) cerita yang direncanakan dan ikuti. Bisa jadi di lapangan ditemukan banyak konten dan konteks baru, bahkan menghasilkan bahan cerita yang lain pula. Jadi kudu membiasakan diri membuka mata dan telinga untuk menggali hal-hal baru dan mencermati segala sesuatu yang seringkali nampak sepele bahkan secara visual. Bahkan “foto receh” sekalipun bisa jadi foto utama Kompas, tulis Arbayn Rambey.

Hal itu saya rasa juga tercermin dari buku “Split Second, Split Moment” karya alharhum Julian Sihombing, rekan sealmamater Bang Arbain di Kompas. Bang Jul, demikian saya biasa menyapanya, memotret beragam hal sederhana namun sesungguhnya sarat makna. Bahkan saat dicermati kini. Foto-foto dalam buku itu seperti mengisahkan wajah kita dulu. Mulai dari peristiwa keseharian, portrait tokoh, politik, hingga olahraga, termasuk foto legendaris peristiwa kerusuhan 1998.

Buku ini saya dapat (lagi) dari menitip beli, lewat kebaikan seorang kawan Facebook yang mengirimkannya dari Padang, Sumatera Barat. Berselang dua hari sepulang dari Anushka ini nongol di rumah. Buku sebelumnya entah terselip dimana atau ada yang meminjam lalu rasa memilikinya cukup tinggi. ☺ Bisa juga berniat membantu menyimpankan karena tahu rumah saya mungil dan sudah terjejali buku dan printilan motor tua.

Beberapa foto “sederhana” dalam buku Bang Jul juga mengingatkan pada buku dwilogi “Ekspresi” karya almarhum Ali Said. Bang Ali adalah mantan redaktur foto di harian Republika tempat saya sempat magang pada 1996. Sosok khas dengan kretek Dji Sam Soe, tas kamera Domke gede, dan Nikon F3 ber-MD4. Waktu itu selepas Maghrib saya selalu menunggu lambaian tangannya untuk mendekat sembari membawa klise foto hasil jepretan hari itu. Lalu..layaknya film kungfu klasik..sang guru mengomeli sang murid yang masih saja bebal dalam mempraktikkan jurus yang diajarkan. Hari-hari itu, senja sungguh meneror.

Dari sosok-sosok tersebut saya banyak belajar. Bahwa demikianlah seharusnya fotojurnalis. Ia kudu mau mencatat jaman melalui rekaman pandangnya. Tak hanya pada peristiwa besar di garda depan tapi juga ceceran di belakang layar, figuran-figuran, dan wajah-wajah serta suara-suara yang terpinggirkan, diabaikan panggung media yang gemerlap penuh agenda. Saat sebuah foto tak dimuat, buku dan mungkin pameran adalah muara alternatif. Tempat dimana fotojurnalis menyatakan sikap dan keberpihakannya.

Al Fatihah untuk Bang Jul dan Bang Ali.. 

Selasa, 01 Agustus 2017

(Selalu Soal) Pilihan Sudut Pandang

“Apa kesulitan menjuri lomba foto?”, tanya seorang kawan di tengah ruang pamer “Anushka” di Galeri Indonesia Menggugat, Bandung beberapa waktu lalu. Ia letakkan konteks pada Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2017 lalu, dimana saya adalah salah satu dari total delapan juri.

Bang Andre sigap menyiapkan foto untuk penjurian.
“Sulit (memilih) kalau fotonya bagus-bagus”, jawab saya cepat diiringi senyum lebar.

Tetapi foto (ter)bagus tetap akan nampak. Semakin di ujung proses penjurian, kesulitan penilaian meningkat diiringi diskusi hangat bahkan perdebatan yang semakin menjadi. Saringan awal biasanya lebih pada teknis dan estetika, pertimbangan berikutnya adalah konten fotonya. Tentu karena judulnya lomba, kesesuaian dengan tema juga menjadi penekanan.

Seperti penjurian lomba foto dalam rangka "Pekan Nasional Perubahan Iklim" kemarin yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat waktu merambat mendekati tengah malam diskusi lebih pada konten (isu) masing-masing kandidat terkuat. Narasi (caption) dibuka dicermati satu-persatu. Kami dewan juri juga tak segan meminta pertimbangan kepada kawan panitia terkait isu dalam foto yang barangkali luput dari pengamatan dan pengetahuan kami yang bisa disebut awam dibanding kawan-kawan internal KLHK.

Saat saya mendapat tawaran untuk menjadi juri lomba tersebut yang terlintas di benak bahwa akan banyak foto penanaman mangrove dan kekeringan yang muncul. Semalam hal itu terbukti. Menjadi hal yang wajar saat perubahan iklim diterjemahkan dengan hal tersebut karena relatif visualnya tersedia cukup masif. Untuk isu kekeringan juga ada foto kebakaran serta asap yang nongol, sudah menjadi semacam “agenda rutin” di negeri ini. Duh..tragedi yang seolah jadi tradisi. 

Visual kesedihan seperti kekeringan, kebakaran, banjir, abrasi dan semacamnya, akan kuat menyentuh perasaan pemirsa. Seolah menjadi latar “bad news is a good news” yang layak viral. Seperti kegemaran umumnya kita(?) terhadap (tayangan) gosip di televisi juga dalam menyebarkan foto korban kecelakaan. Memangnya kalau pesohor A akan menikah siri atau pesohor B (konon) digugat cerai  trus ngapain? Bukan berarti kebakaran itu seperti gosip belaka lho..

Saya lebih tertarik pada foto salah satu peserta yang merekam momen seseorang dikejar terjangan ombak besar yang menggerus bangunan di belakangnya. Salah satu (wujud) isu perubahan iklim adalah naiknya permukaan laut. Foto ini bernada “negatif” tetapi mengirim pesan agar kita selalu awas dan arif bertindak terhadap alam dan lingkungan.

Hal buruk tentu masih terjadi di sekitar kita, tetapi upaya baik (positif) juga patut diapresiasi dan disyiarkan agar menular menjadi tindakan nyata bersama dan menggerus hal negatif. Seperti upaya pencarian dan penggunaan energi alternatif yang rendah emisi. (Yang merasa kirim foto semacam ini boleh “gede rasa” karena bisa jadi fotonya menang..) ☺

Menurut saya, dalam sebuah penjurian tak sekedar memilih siapa sang juara. Tapi juga coba membaca dan mengantarkan pesan sesuai dengan kampanye yang ingin dicapai oleh lomba itu sendiri. Terlebih seperti lomba ini yang mengangkat isu (kesadaran) tentang lingkungan.

Apakah pilihan kami dewan juri sudah tepat dan memuaskan semua pihak? Mungkin saja tidak, terlebih hanya berangkat dari foto yang masuk dan bisa jadi pilihannya terbatas. Tapi upaya untuk berproses bersama dari memotret kemudian membaca, yang bisa juga berangkat dari catatan sederhana ini patut terus diupayakan sekaligus dirayakan.

Ini juga sekaligus merupakan sebentuk pertanggungjawaban saya. Sebagai bagian warga (fotografi) negeri ini yang terus belajar dan berproses bersama.